Mie tektek mang Usman

mei tek tek 1 mie tek tek 2

Bandung – Mie tek-tek, itulah sebuatan orang Bandung terhadap kuliner lezat satu ini. siapa yang tidak kenal dengan kelezatannya. Mie yang dimasak menggunakan arang dan tambah dengan potongan ayam juga telor membuatnya semakin terlihat sangat bergairan untuk dimakan. Mie yang biasa kita jumpai di seputaran Bandung Timur ini memang memiliki kesan tersendiri saat melahapnya.  Selain itu sulit untuk kita temui makanan “murah-meriah” ini di tengah kota Bandung pun menambah kesan saat menyantapnya.

Seperti Pak Usman, penjual mie tek-tek di daerah Pindad. Pak Usman  menitih usaha ini sudah sejak lama, awalnya ia berjual dpinggir jalan, hingga saat ini ia mampu menyewa tempat sendiri untuk tempat berjualannya. Bagaimana tidak keberhasilan yang dimiliki Pak Usman bukan tanpa sebab, mie tek-tek buatanya memang memiliki cita rasa yang cukup nikmat. Bayangkan saja mie yang dimasak dengan menggunakan areng lalu dicampur dengan ayam denagn potongan besar membuat lidah kita bergoyang sangat ingin cepat-cepat menyantapnya.

Usaha mie tek-tek yang digiatin olehnya memang patut diacungkan jempol sebab dari sore ia berjualan sudah sangat banyak konsumen yang ingin membeli mie tek-tek Pak Usman. Dengan bandrolan harga yang sangat merakyat pula makanan ini sangat digemarin tua maupun muda.

(Ajie Phatoni)

Iklan

Ekpedisi Jejak Warta (EKSJEWATA)

Ekpedisi Jejak Warta (EKSJEWATA)

Keindahan Pesona Gunung Anak Krakatau

Suara mesin bis berderu, klakson bis menggema di telinga para penumpang. Penumpang pun berlarian menuju bis yang di tuju. Yah, itulah bis Arimbi tujuan Merak yang kami tuju untuk ke terminal Merak. Sekitar pukul 16.00, bis pun berangkat. Tim Eksjewata tiba di terminal Merak. Sekitar pukul 22.10 WIB.

Udara laut, guyuran ombak , dan gemerlap lampu warna-warni serupa pasar malam seperti di kota Bandung, namun ini bukan di Bandung, melainkan  warna-warni lampu kapal feri, kapal tanker, dan kilang minyak. Kami pun lekas berjalan menuju pelabuhan yang jaraknya cukup dekat, sekitar 200 meter dari terminal Merak. Dan Tim Eksjewata membeli tiket kapal feri untuk menyebrang ke pelabuhan Bakauheni.

Sekitar pukul 23.00 WIB, kapal feri yang kami tumpangi mulai berlayar di lautan selat Sunda. Cuaca sangat bersahabat, tidak ada hujan maupun ombak yang akan mengombang-ambing kapal feri yang kami tumpangi. Sekitar pukul 01.17 WIB, tibalah kami di pelabuhan Bakauheni, kami pun lekas melanjutkan perjalanan menuju dermaga Canti untuk kembali menyebrang laut menggunakan kapal klotok. Sekitar pukul 03.00 WIB, kami tiba di dermaga Canti dan langsung berkangkat kembali memakai kapal klotok untuk menyebrang ke Gunung Anak Krakatau.

Image

TIM EKSJEWATA berangkat dari dermaga Canti menuju Gn. Anak Krakatau (20/5/2012)

Tibalah kami di Gunung Anak Krakatau, sekitar pukul 07.40 WIB. Ini adalah gunung yang terbentuk akibat letusan Gunung Krakatau yang pernah menggelapkan bumi selama 2 hari. Gunung yang terletak di kawasan Lampung ini memang terkenal karena aktivitasnya yang bisa dikatakan labil.

Image

TIM EKSJEWATA akan tiba Gn. Anak Krakatau, dengan menggunakan kapal klotok (20/5/2012)

Angin laut pagi itu sangat kencang, ombak pun terlihat tinggi, mungkin karena aktivitas dari Gunung Anak Krakatau. Pada saat itu memang kabarnya gunung ini sedang aktif-aktifnya bergoyang alias gempa. Kami sempat berfoto-foto sejenak di kaki gunung yang berupa pantai dengan pasir hitam, sebelum melanjutkan perjalanan mendaki Gunung Anak Krakatau yang sensasional ini. Perasaan kami pada saat itu campur aduk, antara perasaan sangat antusias untuk mendaki Puncak Gunung Anak Krakatau dengan perasaan takut karena status gunung yang berubah-ubah.

“Jumlah Pengunjung yang datang ke Gunung Anak Krakatau ini, sekitar 175 wisatawan per hari yang datang kesini mas ” ujar Revi selaku kepala penjaga Gunung Anak Krakatau. Untuk bisa akses ke sini, sangat lah mudah, karena banyak sekali kapal nelayan yang menawarkan untuk beriwisata ke pulau-pulau lainnya , dan diantaranya adalah Gunung Anak Krakatau. Tidak ada hambatan dalam akses jalan menuju ke tempat tersebut.

Pendakian pun dimulai, trek pendakian sangat luas karena gunung ini berbeda dengan gunung-gunung di daratan. Tidak ada hutan di badan gunung ini, yang ada hanya hamparan pasir. Trek berupa pasir inilah yang menyebabkan saya merasa cepat lelah mendaki gunung yang tingginya hanya sekitar 300 mdpl ini. Tebalnya pasir dapat mendorong kaki turun kebawah lagi, tapi semangat saya tak pernah luntur untuk mencapai puncak gunung ini.

Image

TIM EKSJEWATA mulai melakukan pendakian, bersama pelancong dari berbagai daerah (20/5/2012)

Image

TIM EKSJEWATA sudah mendekati puncak Gn. Anak Krakatau yang sangat indah (20/5/2012)

Sensasi tersendiri yang saya rasakan bertambah sesampainya saya di Puncak Gunung Anak Krakatau. Dari atas sini, saya bisa melihat goresan-goresan putih belerang yang menempel di puncak Gunung Anak Krakatau yang berwarna abu-abu tua ini. Saat itu Gunung Anak krakatau ini sangat tenang, diam tak bergoyang sedikit pun, namun sensasi tersendiri itu tak pernah hilang. Berada di atas puncak gunung labil ini, dengan pemandangan alam yang luar biasa indah, perasaan cemas, senang dan bersyukur melebur menjadi satu.

Image

Dari atas puncak Gn. Anak Krakatau, TIM EKSJEWATA berhasil sampai puncak (20/5/2012)

(foto & tulisan : Fauzan Abdul S.K 10080010158)